Begini Cara Pemerintah Tingkatkan Kualitas Lulusan SMK hingga 2025

Rabu, 10 Januari 2018
I G.N. Agung Suardiana
31x
Share yuk!

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh perhatian sangat serius pada pengembangan pendidikan vokasi. Pendidikan kejuruan disebut-sebut jadi solusi paling relevan mengatasi masalah lapangan pekerjaan, sekaligus menumbuhkan industri di dalam negeri.

Namun demikian, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, perlu perubahan revolusioner untuk meningkatkan mutu pendidikan vokasi seperti SMK, Politeknik, dan Balai Latihan Kerja (BLK). Indonesia, kata dia, perlu belajar dari negara maju yang dimana sekolah kejuruannya jadi tulang punggung ekonomi di sana.

"Hasil-hasil sumber daya alam itu ada siklusnya. Saat penerimaan dari perkebunan dan pertambangan saya itu merupakan tulang punggung, tetapi model ini tak bisa bertahan lama. Selain infrastruktur, pemerintahan Presiden Jokowi adalah mengubah motor penggerak ekonomi, dimana ada kesepakatan perlu perombakan di dalam pendidikan vokasi," jelas Darmin dalam Launching Buku Kebijakan Pengembangan Vokasi Indonesia 2017-2025 di Jakarta, Kamis (21/12/2017).

Diungkapkannya, banyak jurusan di sekolah kejuruan sebenarnya sudah kurang relevan dengan kebutuhan kerja saat ini. Di sisi lain, sejumlah segmen vokasi baru seharusnya mulai banyak dibuka untuk menangkap peluang kerja dan wirausaha yang berkembang pesat saat ini seperti pertanian, pariwisata, hingga e-commerce. 

Saat ini, setidaknya ada 144 kompetensi keahlian yang ada di pendidikan vokasi di Indonesia dengan 5 jurusan dengan murid terbanyak antara lain Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan sebanyak 578.000 murid, Teknik Kendaraan Ringan 574.000 murid, Akuntasi 430.000 murid, Administrasi Perkantoran 428.000 murid, dan Teknik Sepeda Motor 270.000 murid. Kelima jurusan tersebut berkontribusi 54,9% dari total murid vokasi di Indonesia. 

Darmin menuturkan, jika melihat dinamika saat sekarang, sektor yang perlu serius digarap di pendidikan kejuruan yakni pertanian modern. Pertanian, menurutnya, jadi sektor penggerak ekonomi paling besar di Indonesia namun kurang serius diperhatikan. 

"Pertama bidang agrobisnis, kita harus fokus pada kegiatan di bidang mulai dari sawit, kelapa, cokelat, tebu, kopi, dan lainnya. Industri sawit sebagai bahan baku bio diesel punya potensi jadi penggerak ekonomi di kawasan Barat. Di Timur, bisa dikembangkan perkebunan tebu dan pabrik gula untuk etanol," jelas Darmin.

"Indonesia juga perlu bergerak di bidang produksi buah, sayuran, dan hortikultura. Bidang-bidang yang labour intensive, tapi perlu intensitas kerja dan skill yang lebih tinggi. Pekerjaan skill tinggi seperti pembibitan, kita tidak pernah urusi ini dengan sitematik, seperti bagaimana mengajari masyarakat melakukan okulasi untuk pembibitan yang baik. Juga pemeliharaan pasca panen sehingga mendorong petani dapat value added yang lebih besar," tambahnya.

Kemudian sektor lain yang perlu digalakkan di sekolah kejuruan yaitu pariwisata dan boga. Di negara maju, sektor tersebut sangat serius digarap sehingga bisa menciptakan devisa besar untuk negara.

"Bidang tourisme, food and beverage butuh keterampilan lebih tinggi dengan potensi serapan tenaga kerja dari lulusan SMK seperti jurusan tata boga, perhotelan, dan pelayan jasa. Di Jepang contohnya, rumah tradisional diubah jadi penginapan. Indonesia punya peluang besar," papar Darmin.

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini melanjutkan, 3 sektor lainnya yang perlu dikembangkan serius di vokasi yaitu kesehatan, e-commerce, dan keterampilan untuk tenaga migran yang bekerja di luar negeri.

"Ketiga healthcare ini potensi besar karena pelayanan kesehatan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi. Kemudian e-commerce, kelima yaitu siapkan tenaga kerja di luar negeri seperti suster, perawat, maupun asisten rumah tangga yang terampil yang dibekali keteerampilan sehingga jadi sumber devisa negara," kata Darmin.

Menurutnya, fokus perbaikan pada pendidikan vokasi terletak pada kurikulum dan kualitas pengajarnya. Serta tak kalah penting, yakni penguatan pendidikan kejuruan pada sektor yang jadi prioritas dan berkembang pesat di masa mendatang seperti pariwisata dan e-commerce. 

Lewat sebuah buku pula, sambungnya, dibuat roadmap untuk melakukan perbaikan menyeluruh di sekolah-sekolah kejuruan yang ada. Buku tersebut merupakan rangkuman dari beberapa rapat antara kementerian dan lembaga dalam pembahasan perbaikan kualitas lulusan vokasi. 

"Saya sampaikan secara resmi, kita luncurkan buku vokasi yang judulnya Kebijakan Pengembangan Vokasi di Indonesis 2017-2025, agar jadi pegangan bagi kantor Kemenko Ekonomi, Kemenaker, Kemendikbud, dan lainnya untuk mulai melakukan transformasi pendidikan vokasi," ucap Darmin. 

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM Kemenko Ekonomi, Rudy Salahudi, menggarisbawahi permasalahan yang dihadapi pendidikan vokasi saat ini yang membuatnya sering tak singkron dengan kebutuhan kerja.

"Dari beberapa kali rapat, soal vokasi masih ada beberap isu mengemuka yaitu soal ketidaksesuaian kurikulum, kurangnya guru yang produktif, keterbatasan sarana dan prasarana termasuk alat praktik dan usianya yang sudah dua generasi. Serta aturan yang menghambat," ungkap Rudy.

 Sumber: https://news.detik.com

Tulisan Terkait

Komentari Tulisan